Selasa, 28 November 2017

Batasan Umur Pengguna Facebook Akan Dihapus? Kabar Baik atau Buruk'kah Ini?

CEO Facebook, Mark Zuckerberg, kembali melontarkan komentar yang kontroversial terkait layanan di jejaring sosial. Tahun lalu, ia menyebut privasi tak lagi terlalu penting. Kali ini, ia mengusulkan dihapuskannya pembatasan umur bagi pengguna Facebook. Artinya, bayi yang masih merah pun boleh membuat akun di Facebook.

Sebagaimana diketahui, umur minimal pegguna Facebook ialah 13 tahun. Namun, dari sebuah penelitian yang dirilis beberapa waktu yang lalu, terdapat 7,5 juta pengguna Facebook yang berada di bawah 13 tahun, umumnya 11 tahun. Tetapi, tentu hal ini tidak mampu dijadikan alasan untuk membuka keran bagi mereka yang berada di bawah usia 13 tahun tersebut. Anak-anak tentu belum mampu melindungi diri mereka dari banyak sekali hal yang menyangkut dunia orang cukup umur yang mampir ke halaman Facebook-nya.

Mark Zuckerberg menyatakan idenya tersebut dalam sebuah kesempatan berpidato di California beberapa hari yang lalu. Menurutnya, ia memiliki filosofi bahwa untuk pendidikan diharapkan waktu memulai yang sangat muda. Oleh karena pembatasan itu membuat bawah umur di bawah usia 13 tahun tersebut belum mampu memulai hal tersebut. Dengan membiarkan mereka menggunakan Facebook, kita mampu melihat apa yang akan mereka kerjakan. Mark juga berjanji untuk membuat bawah umur aman di Facebook.

Tentu saja ada yang janggal dari alasan Mark Zuckerberg ini. Pertama, soal pendidikan. Tentu tidak mampu dianggap bahwa menggunakan Facebook sedari bawah umur dianggap sebagai sebuah pendidikan. Mengapa? Sebab, Facebook bukanlah ruang pendidikan. Facebook ialah media di mana lalu lintas isu melalui update status, foto, bahkan video sangat tinggi. Sebagian besar dari isu yang mengalir di Facebook ini ialah konsumsi orang dewasa, bukan anak-anak.

Kedua, soal keamanan. Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, keamanan akun pengguna Facebook sangat rendah. Privasi pengguna di Facebook sangat rendah, hampir-hampir tidak ada karena kebijakan privasi yang sangat longgar yang disebabkan oleh ketentuan privasi Facebook yang berbelit dan sangat panjang. Sebagian pengguna Facebook tentu sudah sangat bersahabat dengan spam, scam, dan banyak sekali URL yang mengarah kepada konten dewasa. Tentu akan sangat membahayakan bila bawah umur dibiarkan untuk melihat semua hal ini.

Masih terkait dengan soal keamanan, di Facebook tidak ada satu pun jaminan yang mengatakan bahwa semua pengguna Facebook akan berlaku baik. Artinya, terbuka sekali kemungkinan para penjahat, terutama predator anak-anak, untuk mampu mencari mangsa dengan diperbolehkannya bawah umur membuat akun di Facebook.

Ketiga, adanya peraturan yang melarang pengumpulan isu dari bawah umur di bawah usia 13 tahun, yaitu Children’s Online Privacy Protection Act (COPPA), yang ditandatangani menjadi undang-undang pada 21 Oktober 1998 dan dimodifikasi efektif pada 21 April 2000. Aturan ini berlaku untuk situs web komersial dan layanan online yang diarahkan untuk anak di bawah 13 tahun yang mengumpulkan isu langsung dari anak-anak. COPPA melarang tindakan tidak adil atau menipu atau praktik sehubungan dengan pengumpulan, penggunaan, atau pengungkapan isu langsung dari dan ihwal bawah umur di internet.

Dengan tiga alasan di atas, cukup terang bahwa wangsit pembatalan batasan umur pengguna Facebook ini merupakan wangsit yang cukup absurd dari Mark Zuckerberg. Situs zdnet.com menyebut wangsit ini sebagai wangsit paling buruk dari orang sekaliber Mark Zuckerberg. Meskipun Facebook telah cukup berusaha memperbaiki keamanannya, hal ini bukanlah jaminan dan alasan untuk melegalkan pembatalan batasan umur pengguna Facebook.

Terkait dengan bawah umur atau remaja yang berumur lebih dari 13 tahun pun, orangtua tetap diimbau untuk memerhatikan keterlibatan anak di dalam Facebook. Hal ini karena, sekali lagi, Facebook menolong penggunanya untuk terkoneksi dengan sahabat mereka yang online, tetapi belum tentu semua yang online ialah sahabat dari pengguna. Untuk memonitor keterlibatan anak di Facebook, orangtua disarankan untuk melaksanakan langkah berikut ini.

1. Monitor akun Facebook anak
Orangtua harus terlibat dalam jalinan pertemanan anak. Ini penting biar mampu mengetahui apa yang dilakukan anak di Facebook. Kalau tidak bisa, misalnya untuk anak remaja SMA, awasilah mereka dari sahabat mereka. Hal ini dilakukan oleh 18 persen orangtua dalam sebuah survei ihwal pengguna Facebook usia antara 13-17 tahun. Orangtua jangan berusaha membuat akun Facebook dengan menggandakan umur anak. Kalau anak telah membuat akun Facebok tanpa sepengetahuan, hapuslah akun tersebut atau mintalah Facebook untuk menghapusnya dengan mengisi laporan "Report an Underage Child" yang disediakan oleh Facebook.

2. Manfaatkan kontrol privasi
Sekitar satu dari lima pengguna cukup umur aktif Facebook mengatakan, mereka tidak menggunakan kontrol privasi yang disediakan Facebook. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap ancaman. Kontrol privasi Facebook tidak dapat mencegah setiap pelanggaran, tetapi mereka cukup membantu dalam kadar tertentu. Orangtua harus mengatur kontrol privasi anak terhadap apa saja yang mampu dilihat oleh semua pengguna Facebook. Misalnya, foto siapa saja yang mampu melihat dan siapa saja yang mampu mengirim pesan.

3. Matikan Instant Personalization
Facebook telah menambahkan beberapa situs ke fitur Instant Personalization, yang secara otomatis akan memperoleh isu mengenai karakteristik pengguna Facebook. Saya sangat menyarankan fitur ini untuk dimatikan biar profil pengguna Facebook tidak dimanfaatkan oleh pihak ketiga untuk kepentingan iklan dan lainnya.

Bagi orangtua, penting untuk mengetahui acara anak di Facebook biar terhindar dari duduk perkara yang timbul di kemudian hari, menyerupai penculikan anak dan lainnya. Facebook memang bermanfaat, tetapi hanya pada batas-batas tertentu. Akan lebih baik mencegah daripada tertimpa bencana.

sumber:
author by Kimi Raikko on Kompasiana


EmoticonEmoticon